Kejadian ini kemudian disampaikan kepada ahli hiu Malcolm Smale. Hasil konsultasi tentang kasus tersebut dengan kejadian berikutnya, ada keterkaitan dengan paus pembunuh, yang kemudian dikonfirmasi oleh ahli orca di Selandia Baru.
Towner mengatakan autopsi pada hiu putih besar bersama tim membutuhkan waktu berjam-jam. Pengukuran setiap bagian tubuh dilakukan secara cermat.
Kemudian tim tersebut akan mencari tahu apakah ada tanda-tanda lain seperti cedera karena kapal, tali pancing atau trauma yang dapat menjadi penyebab kematian.
“Ketika hewan itu terbaring di sana dengan 60 kilogram hati dicabut, itu cukup jelas,” ujarnya.
Terdapat sejumlah laporan tentang paus pembunuh yang menyerang hiu di lepas pantai Afrika Selatan pada 2017. Awalnya, para ilmuwan melaporkan penemuan hiu sevengill yang sudah mati dan terdampar tanpa hatri. Namun, spesies lain — termasuk hiu putih besar — juga menjadi sasaran.
Para peneliti akhirnya mengaitkan serangan tersebut dengan 2 paus pembunuh yang telah terlihat di daerah tersebut. Diperkirakan paus pembunuh mengeluarkan hati (liver) mereka karena ini adalah organ yang sangat bergizi.
“Cedera pada hiu putih besar ini identik dengan cedera di sevengills di false bay karena secara fisik hewan-hewan itu robek,” kata Towner.*





Komentar tentang post