Beberapa pasien bahkan datang ke rumah sakit dengan suhu kulit normal, tetapi ternyata memiliki suhu inti tubuh yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pemantauan suhu inti tubuh menggunakan metode yang lebih akurat sangat penting dalam penanganan kondisi ini.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, heatstroke juga memperlihatkan dimensi ketimpangan sosial yang cukup jelas. Kelompok masyarakat dengan akses terbatas terhadap fasilitas pendingin, tempat tinggal yang tidak memadai, serta pekerjaan di luar ruangan seperti petani, pekerja konstruksi, dan penambang memiliki risiko lebih tinggi terpapar panas ekstrem dalam waktu lama.
Pendekatan multidisipliner sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman ini. Upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga melibatkan kebijakan lingkungan, perencanaan kota, keselamatan kerja, serta peningkatan literasi kesehatan masyarakat.
Program heat action plan, penyediaan pusat pendinginan (cooling centers), serta regulasi keselamatan kerja di lingkungan panas merupakan beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko kesehatan akibat panas ekstrem.
Perkembangan teknologi kesehatan juga membuka peluang baru dalam pencegahan penyakit terkait panas. Penggunaan sensor biometrik dan perangkat wearable yang mampu memantau suhu tubuh, denyut jantung, serta status hidrasi secara real-time berpotensi membantu mendeteksi tanda awal stres panas sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.




