Batimetri Botubarani
Ketua Jurusan Manajemen Sumber Daya Perikanan Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Nuralim Pasisingi, menjelaskan bahwa secara batimetri, wilayah perairan Botubarani memang memiliki dasar laut dengan slope yang cukup curam.
Kondisi ini memungkinkan spesies megafauna seperti paus biru untuk mendekati area pesisir tanpa harus keluar dari zona dalam.

“Kalau dikaitkan dengan batimetri perairan Botubarani, fenomena ini tergolong wajar. Megafauna seperti paus biru bisa saja mencari makan di kedalaman kurang dari 100 meter,” ujar Nuralim.
Meski demikian, ia menilai bahwa faktor oseanografi lain seperti arus laut, suhu perairan, dan ketersediaan makanan berupa plankton juga perlu diperhitungkan.
“Kemunculan paus biru di Botubarani ini mungkin berkaitan dengan ketersediaan makanan atau faktor lingkungan lain yang saling berhubungan”.
Koordinator BPSPL Makassar Wilayah Kerja Gorontalo, A. Wahyu Oramahi, mengatakan berdasarkan kemunculan mamalia laut lain sebelumnya, bisa diasumsikan bahwa perairan Teluk Tomini, khususnya kawasan konservasi Teluk Gorontalo, merupakan jalur migrasi beberapa jenis mamalia laut.
Ritus Ekologis
Kolumnis senior Darilaut.id, Dr. Gybert E. Mamuaya, menjelaskan bahwa bagi masyarakat pesisir Indonesia, laut bukan hanya ruang ekonomi, tetapi ruang makna.




