Sehari sebelumnya, Senin (5/10), Indonesia telah melakukan pra-TTX atau sesi akademik yang dihadiri 98 perwakilan BPBD.
BNPB menghadirkan petugas pusat pengendali operasi (Pusdalops) yang memiliki peran sebagai salah satu rantai komunikasi peringatan dini gempa bumi dan tsunami dan perwakilan personel Direktorat Peringatan Dini sebagai tim evaluasi atau after action review (AAR).
Pada kesempatan itu, SOP peringatan dini dan peran BPBD dari setiap negara disampaikan yang nantinya menjadi bagian dari latian IOWave20.
Kegiatan yang diselenggarakan dua tahunan ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. IOWave20 tidak melibatkan masyarakat untuk melakukan gladi lapang. Hal tersebut disebabkan masih adanya pandemi Covid-19, yang mengharuskan latihan dilakukan secara virtual.
IOWave20 kali ini merupakah hasil pertemuan ke-12 ICG/IOTWMS pada Maret 2019 lalu, Saat itu, pertemuan menyetujui pembentukan tim kerja IOWave20. Di samping itu, Indonesia terpilih menjadi ketua tim kerja IOWave20.
Selanjutnya, tim kerja memutuskan untuk melakukan pelatihan pada 6, 13 dan 20 Oktober 2020 dengan tiga skenario tsunami yang berbeda, salah satunya di Pantai Selatan Jawa.
Kegiatan IOWave20 menjadi wadah bagi BMKG, BNPB, BPBD dan masyarakat terkait untuk saling berkoordinasi menguatkan peran masing-masing dalam upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi dan tsunami.





Komentar tentang post