Meskipun tampak “sederhana”, fase pemantauan ini justru menjadi fondasi penting bagi tahapan berikutnya.
Peran Teknologi Nuklir
Ali menjelaskan bahwa peran teknologi nuklir baru akan masuk pada Fase II (2026–2029), ketika fokus riset tidak lagi sekadar memetakan konsentrasi mikroplastik, tetapi juga menelusuri sejarah pencemarannya.
Pada fase ini, teknik nuklir seperti penentuan umur sedimen menggunakan radioisotop timbal-210 (Pb-210) yang telah dikuasai BRIN akan mulai dimanfaatkan. Metode ini memungkinkan peneliti merekonstruksi sejarah pencemaran mikroplastik di sedimen laut hingga sekitar 150 tahun ke belakang.
Dengan menganalisis lapisan sedimen secara berurutan, peneliti dapat mengetahui sejak kapan mikroplastik mulai terakumulasi serta bagaimana perubahannya dari waktu ke waktu.
“Teknologi nuklir berperan untuk melihat dimensi waktu, yakni kapan pencemaran itu mulai terjadi dan bagaimana trennya,” kata Ali.
Ke depan, pihaknya juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk UI dan IPB, terutama untuk analisis mikroplastik pada sedimen dan biota laut.
Upaya ini diharapkan tidak hanya memperkuat kontribusi Indonesia dalam basis data global, tetapi juga menyediakan pijakan ilmiah yang kuat bagi kebijakan nasional terkait pengendalian pencemaran plastik laut.




