Kedua, proyek global (INT 7021) yang bertujuan membangun basis data mikroplastik pesisir dunia. Indonesia terlibat aktif dalam keduanya.
Meskipun NUTEC identik dengan teknologi nuklir, fase awal pemantauan mikroplastik laut ini belum menggunakan teknik nuklir.
Riset Mikroplastik
Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh negara peserta menggunakan metodologi sampling dan analisis yang sama, sehingga data yang dihasilkan dapat dibandingkan lintas wilayah dan lintas negara.
“Selama ini, riset mikroplastik sudah banyak dilakukan, termasuk di Indonesia. Tapi metodenya beragam. Kalau protokolnya tidak seragam, data akan bias dan sulit dibandingkan,” ujar Ali.
Karena itu, IAEA terlebih dahulu menyusun protokol baku, mulai dari teknik pengambilan sampel pasir pantai dan air laut, hingga metode analisis polimer menggunakan instrumen non-nuklir seperti ATR-FTIR (Attenuated Total Reflectance–Fourier Transform Infrared).
Indonesia baru mulai melakukan sampling pada 2024, setelah protokol tersebut disepakati dan peneliti mendapatkan pelatihan resmi.
Lokasi awal meliputi kawasan pesisir Lampung, serta beberapa titik lain seperti kawasan wisata, wilayah industri, dan daerah dengan tekanan aktivitas manusia yang berbeda. Data yang dikumpulkan kemudian diunggah ke platform global IAEA bernama IRIS, yang nantinya dapat diakses publik.




