Tujuan mitigasi bencana adalah meminimalkan efek merusak dari berbagai bahaya yang sudah diperkirakan atau diperhitungkan.
“Mitigasi gempa harus menjadi budaya masyarakat dan bagian terpadu pengembangan wilayah dan pembangunan infrastruktur,” katanya.
Danny juga pernah terlibat dalam proyek-proyek pemetaan jalur sesar aktif dan karakterisasinya.
Selain itu, terlibat dalam revisi Peta Seismic Hazard Indonesia. Peta Seismic Hazard merupakan peta yang dipakai dalam standarisasi kode bangunan tahan gempa sesuai dengan zonasinya.
Danny juga berperan dalam peta pembuatan bahaya tsunami di Indonesia. Peta bahaya tsunami pertama yang dibuat adalah Kota Padang.
“Waktu itu saya dan tim LIPI-Caltech adalah pelopor utama dalam propaganda mitigasi bahaya tsunami di Padang,” ujarnya.
Menurut Danny ada tiga mitigasi bencana gempa berbasis sains: mitigasi deformasi besar, mitigasi guncangan gempa, dan mitigasi bahaya ikutan.
Ada pula mitigasi bahaya tsunami yang meliputi pembuatan peta (tinggi/genangan) tsunami, rencana tata ruang aman tsunami, jalur evakuasi & rencana darurat, pendidikan dan Latihan masyarakat, serta sistem peringatan dini.
“Sistem peringatan dini harus didesain spesifik sesuai dengan kondisi geologi dan masyarakatnya,” katanya.
Danny mencontohkan sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal “Smong” yang menyelamatkan warga Pulau Simeuleu ketika tsunami melanda 2004 silam.





Komentar tentang post