Kedua, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Syawal 1441 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 23 Mei 2020. Sementara bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Syawal 1441 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 23 Mei 2020 tersebut.
Ketiga, ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 23 Mei 2020 berkisar antara 5,60 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 7,12 derajat di Banda Aceh, Aceh.
Keempat, elongasi di Indonesia aat Matahari terbenam pada 23 Mei 2020 berkisar antara 6,34 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 7,88 derajat di Sabang, Aceh.
Kelima, umur bulan di Indonesia pada tanggal 23 Mei 2020 berkisar antara 14,79 jam di Merauke, Papua sampai dengan 18,16 jam di Sabang, Aceh.
Keenam, Lag saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 23 Mei 2020 berkisar antara 28,08 menit di Merauke, Papua sampai dengan 34,68 menit di Sabang, Aceh.
Ketujuh, FIB saat Matahari terbenam di Indonesia pada tanggal 23 Mei 2020 berkisar antara 0,31 persen di Merauke, Papua sampai dengan 0,48 persen di Sabang, Aceh.
Kedelapan, pada tanggal 23 Mei 2020, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam terdapat bintang Aldebaran di kiri atas Bulan dengan dengan jarak sudut lebih kecil daripada 5 derajat dari Bulan.*





Komentar tentang post