- BMKG memperoleh data tide-gauge pada 22 Desember 2018 Sekitar pukul 22.00WIB, 4 tide gauge di selat sunda mencatat adanya anomali permukaan air laut yang diyakini sebagai tsunami.
- Tsunami yang terjadi bukan disebabkan oleh Gempabumi Tektonik, namun akibat longsor (flank collapse) di lereng Gunung Anak Krakatau akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Kejadian longsor lereng Gunung Anak Krakatau tercatat di sensor seismograph BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJI) pada pukul 21.03 WIB, juga beberapa sensor di Lampung (LWLI, BLSI), Banten (TNG/TNGI, SBJI), Jawa Barat (SKJI, CNJI, LEM).
Keempat, hasil analisa rekaman seismik (seismogram) dari longsoran lereng Gunung Anak Krakatau setelah dianalisa oleh BMKG setara dgn kekuatan MLv = 3.4, dengan episenter di Gunung Anak Krakatau.
Kelima, faktor penyebab lepasnya material di lereng anak krakatau dalam jumlah banyak adalah tremor aktivitas vulkanik dan curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut.
Keenam, bukti-bukti yang mendukung bahwa telah terjadi longsoran di lereng Gunung Anak Krakatau sebagai akibat lanjut dari erupsi Gunung Anak Krakatau:
a. Deformasi Gunung Anak Krakatau berdasarkan perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah tsunami yang memperlihatkan 64 ha lereng baratdaya Gunung Anak Krakatau runtuh.
b. Curah hujan tinggi pada perioda waktu yang berdekatan dengan tsunami.
c. Model inversi 4 tide-gauge yang memperlihatkan bahwa sumber energi berasal dari selatan Anak Krakatau.
d. Riset BPPT dan Universitas Blaise Pascal, Perancis yang dipublikasikan pada jurnal internasional.
Ketujuh, tindak lanjut dari hasil Rakor tersebut:
a. Direkomendasikan untuk memasang tide-gauge di Komplek Gunung Anak Krakatau (BIG)
b. Survei Geologi kelautan dan batimetri di Komplek Gunung Anak Krakatau (Badan Geologi, BPPT, LIPI),
c. Konfirmasi dari citra satelit resolusi tinggi (LAPAN) → perlu cipta optik,





Komentar tentang post