Menurut Daffari, saat ini sudah terdapat alternatif solusi seperti kotak pendingin berbasis termoelektrik dan metode pendinginan menggunakan es batu. Namun, metode ini belum cukup efisien untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami para nelayan.
Seringkali kotak pendingin membebani nelayan kecil dari segi harga dan keefektifan alat tersebut. Harga es batu yang digunakan untuk kotak pendingin relatif lebih mahal, sedangkan listrik untuk kotak termoelektrik cenderung mempersulit mobilisasi alatnya.
Nelayan juga tidak dapat mengukur suhu secara langsung jika menggunakan kedua alat ini.
Rancangan inovasi yang disiapkan Tim FTUI berangkat dari permasalahan yang dihadapi para nelayan Indonesia.
Menurut Sharon, ikan hasil tangkapan para nelayan, cepat mengalami pembusukan sebelum diawetkan di darat.
Hal ini, salah satunya, disebabkan karena belum tersedianya teknologi pendingin ikan yang memadai yang dapat menjaga kesegaran ikan yang ditangkap secara optimal.
Permasalahan tersebut kerap memberikan kerugian bagi nelayan, sebab kualitas hasil tangkapannya menurun.
Sharon mengatakan, data Statistik Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan hampir semua nelayan Indonesia pernah mengalami kerugian senilai 40 juta rupiah setiap bulan karena ikan hasil tangkapannya membusuk sebelum sampai di pelabuhan.





Komentar tentang post