Abdul juga menjelaskan bahwa perdagangan kopra membawa keterlibatan aktif dari masyarakat lokal seperti Buton dan Mandar. Jika sebelumnya jalur rempah dikuasai oleh orang Eropa, maka dalam perdagangan kopra muncul pelaku baru pedagang Tionghoa.
“Dalam struktur perdagangan maritim, pelabuhan Makassar memainkan peran penting sebagai entrepot atau pelabuhan utama,” kata Abdul.
Pelabuhan ini menjadi titik kumpul komoditas dari berbagai collecting centers seperti Selayar, Mandar, Donggala, hingga Maluku.
Makassar bukan hanya pelabuhan strategis secara geografis, tetapi juga memiliki fasilitas pendukung seperti gudang, akses air bersih, dan jalur sungai yang memudahkan distribusi ke pedalaman.
Kopra tidak hanya membawa kesejahteraan, tetapi juga menjadi sumber konflik. Pada masa pemberontakan DI TII di Sulawesi dan masa-masa awal pembentukan TNI, kopra menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai pihak.
Akibatnya, beberapa kampung di Mandar terbakar habis pada tahun 1956–1957, memicu diaspora besar-besaran masyarakat Mandar ke pulau-pulau kecil di Kalimantan Selatan.

A.B. Lapian Memorial Lectures (ABLML) kerja sama Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Pusat Riset Arkeologi, Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN, serta Yayasan Negeri Rempah. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus BRIN KST Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Selasa (23/09).




