Secara historis nama “Langgula” berasal dari kata Pilolanggula yang berarti tempat pemberian nama dan pembagian tugas.
“Filosofi nama tersebut tidak lain adalah bentuk penugasan kepada orang-orang tertentu untuk menjaga dan mengamankan keadaan, serta keselamatan penduduk dari ancaman orang-orang luar melalui perairan Teluk Tomini,” ujar Fadli.
Direktur Pusat Inovasi Universitas Negeri Gorontalo, Dr Funco Tanipu, mengatakan, kearifan lokal masyarakat Desa Langgula dalam proses penangkapan cumi perlu diapreasiasi dan terus digalakkan agar sumberdaya perikanan dan ekosistem kelautan tetap lestari.
“Teknik pengolahan cumi yang dilakukan para ibu rumah tangga telah berkembang ke dalam turunan produk olahan cumi,” kata Funco.
Saat ini cumi telah diolah menjadi cumi kering, kerupuk cumi berbagai varian, dan biskuit cumi. Fakta empiris ini perlu dikembangkan dan dipublikasikan kepada masyarakat luas, salah satunya melalui pelaksanaan Festival Sejuta Cumi.
Produk olahan ini, antara lain, stik cumi, abon, kerupuk, biskuit, bakso, panada, perkedel dan ilabulo. Semuanya bahan baku utama cum-cumi.





Komentar tentang post