”Pekerjaan mereka sangat penting bagi kehidupan dan ekonomi kita,” ujar Guterres.
Namun, kata Guterres, hak-hak mereka sering kali diabaikan, dan keselamatan mereka terancam.
Tahun ini, ”kami menyoroti pelecehan dan diskriminasi yang dihadapi oleh banyak pelaut, termasuk perempuan, pekerja muda, dan mereka yang berada dalam kondisi terisolasi atau rentan,” kata Guterres.
Sekretaris Jenderal mengatakan kebijakan tanpa toleransi dan budaya tempat kerja yang inklusif yang mendukung kesehatan mental para pelaut sangat penting.
Begitu pula tindakan terkoordinasi – antara pemerintah, industri, dan pekerja – untuk menegakkan standar ketenagakerjaan dan memastikan kondisi yang aman, adil, dan manusiawi di laut.
”Pada Hari Pelaut Internasional ini, mari kita berkomitmen pada sektor maritim yang berlandaskan pada kesetaraan, rasa hormat, dan martabat,” kata Guterres.
Hari Pelaut pada 25 Juni ditetapkan dalam sebuah resolusi yang diadopsi oleh Konferensi Diplomatik 2010 di Manila, mengadopsi Konvensi STCW yang telah direvisi.
Tujuannya, untuk mengakui kontribusi unik yang diberikan oleh pelaut dari seluruh dunia terhadap perdagangan laut internasional, ekonomi dunia, dan masyarakat sipil secara keseluruhan.
Resolusi tersebut “mendorong Pemerintah, organisasi pelayaran, perusahaan, pemilik kapal, dan semua pihak terkait lainnya untuk mempromosikan Hari Pelaut dengan sepatutnya dan tepat serta mengambil tindakan untuk merayakannya secara bermakna”.




