Kapal Riset Baruna Jaya IV mulai beroperasi dan melakukan pencarian berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilaksanakan KNKT dan Basarnas sebelumnya.

Survei ini berupa data lokasi ditemukannya beberapa indikasi awal anomali kemagnetan dengan lingkungan di sekitarnya yang ditangkap sebagai badan kapal yang terbuat dari logam.
Kemudian hasil metode Multi Beam Echo Sounder (MBES). Berdasarkan data MBES ini ditemukan 8 objek pengamatan yang dianggap sebagai bangkai kapal MV Nur Allya yang tenggelam di perairan laut Halmahera.
Namun dari 8 objek tersebut belum dapat memastikan keberadaan MV Nur Allya.
Hammam berharap, apa yang telah diupayakan bersama dengan KNKT ini sedikit banyak memberikan jawaban atas hilang kontaknya Kapal MV Nur Allya pada 21 Agustus 2019 lalu.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa dari hasil analisis kerusakan lifeboat, data AIS adanya signal EPIRB. Dari data hasil survei bawah air, keadaan laut yang cukup bergelombang dan khususnya data keadaan kadar air dari muatan pada nickle ore yang melebihi batas kadar air yang diizinkan dalam pengangkutan serta terjadinya hujan saat pemuatan. Maka dapat disimpulkan bahwa muatan Nur Allya mengalami likuifaksi.
Dari hasil analisis stabilitas yang telah dilakukan, maka tenggelamnya Nur Allya di Perairan Halmahera, Maluku Utara pada 21 Agustus 2019 diakibatkan Likuifaksi muatan nickel ore, dengan nilai momen likuifaksi 474.630,996 ton.





Komentar tentang post