Pemkot Surabaya memiliki 15 ribu ASN. Sebanyak 10 ribu di antaranya tinggal di Surabaya. “Ini semua akan jadi konsumen tetap toko-toko kelontong yang jadi binaan Pemerintah Kota Surabaya,” kata Fikser.
Wali Kota Surabaya menargetkan pengerjaan aplikasi ini sudah harus selesai pada 15 Juni 2021. Jadi mulai dari kebutuhan bulanan, semua ASN wajib beli di toko kelontong.
“Kita sudah bagi ASN per wilayah tempat tinggal yang dekat dengan toko kelontongnya. Untuk rasa keadilan toko kelontong, kami akan batasi transaksi,” kata Fikser.
Fikser mengatakan aplikasi digital juga digunakan untuk tracing Covid-19. Real time data yang kami terima dari rumah sakit-rumah sakit, masuk ke aplikasi tersebar di semua kecamatan. Camat yang menjadi komando.
Data tersebut terdistribusikan ke tiga pilar lalu tracing. Untuk bisa mendapatkan 25 kontak erat, menggunakan aplikasi ini bisa sampai ke-40. Dengan kecepatan menemukan kontak erat, diharapkan bisa memutuskan mata rantai. Termasuk aplikasi kondisi riil pasien di setiap rumah sakit, kita gunakan sebagai bahan evaluasi dan analisis pemangku kebijakan.
Nantinya semua layanan di kantor kecamatan dan kelurahan berbasis teknologi. “Jadi warga tidak perlu datang ke kelurahan. Dia bisa mengupload surat-surat persyaratan, setelah itu lalu di-approval lurah dan camat, dia bisa mencetak sendiri surat-surat keterangan itu,” kata Fikser.





Komentar tentang post