Sementara Adam Portelli dari MEAA, menyinggung masalah industri pers sebagai dampak dari digitalisasi dan pengalaman dalam mengadvokasi masalah ketenagakerjaan para pekerja lepas dan pekerja media digital. Hal yang ditekankan adalah pentingnya kesepakatan kolektif.
“Pentingnya serikat kerja kepada para jurnalis muda yang bekerja di outlet digital karena meningkatnya tantangan jurnalisme,” ujarnya.
Pembicara lainnya, Nonoy Espina berbagi mengenai kondisi pers Filipina yang mengalami tantangan berat. Salah satu ancaman terbesar di negara ini adalah ancaman kekerasan terhadap jurnalis.
Sejumlah orang terbunuh ketika menjalankan tugas mereka. Setidaknya 13 jurnalis tewas selama pemerintahan Durterte, memperburuk situasi pers sejak tragedi pembunuhan masal para jurnalis pada 2009 .
Perkembangan media sosial juga menjadi momok ancaman bagi para jurnalis. Pemerintah setempat, kata Nonoy, menggunakan media sosial untuk menyebarkan fakenews.
“Facebook disebut sebagai tool yang paling populer untuk menyebarkan fakenews dan hal itu dipercaya oleh masyarakat,” katanya.
Pemimpin redaksi Malaysiakini.com Steven Gan mengatakan, perlunya dukungan semua pihak. Saling support antar jurnalis se Asia Tenggara menjadi sangat penting.*





Komentar tentang post