Menurut Haryadi, di Indonesia, batuan kepingan kerak samudra tersebar mulai dari Sumatra Utara, Pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Halmahera, Pulau Obi-Gag, Pulau Gebe, Pulau Seram, Pulau Ambon, Pulau Waigeo dan Leher Kepala Burung sampai ke bagian barat-utara dan bagian tengah Papua.
Melalui risetnya, Haryadi menemukan bahwa asal-usul dan rentang umur pembentukan kepingan kerak samudra memberikan gambaran baru tatanan geologi dan tektonik terkait pembentukan sumber daya energi atau migas.
Di Indonesia, kata Haryadi, konvergensi (pertemuan) lempeng telah mengakibatkan terbentuknya jalur gempa, deretan gunung-gunung api aktif, namun di sisi lain disertai dengan proses mineralisasi dan pengendapan logam-logam ekonomis.
Konvergensi kerak (lempeng) dapat menjadi sumber bahaya geologi, tetapi juga mengendapkan sumber daya mineral ekonomis. Kepingan-kepingan kerak samudra diketahui telah menjadi sumber daya logam dasar bernilai tinggi, seperti nikel, krom, mangan, besi atau seng, unsur tanah jarang, terutama scandium (Sc) dan unsur dari kelompok platinum.
Di sisi lain, menurut Haryadi, penelitian kerak samudra sangat bermanfaat pula bagi pengembangan ilmu pengetahuan dasar, seperti petrogenesa, umur dan pengembangan konsep tektonik. Tentu saja penelitian yang strategis ini juga membutuhkan kolaborasi untuk dapat memberikan hasil optimal.





Komentar tentang post