Sebulan sudah lewat, setelah Lukman berada di rumpon yang dibawa dari Pinolosian, Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, untuk ditempatkan di Laut Maluku.
Di titik rumpon ini, Pulau Sulawesi, Halmahera dan pulau-pulau kecil lainnya tidak terlihat. Hanya lautan membiru.
Pada Juli 2024, ombak tinggi disertai angin kencang menerjang rumpon yang dijaga Lukman. Tali yang terhubung dengan pemberat putus.
Saat kejadian, ”Hujan, angin (kencang) dan ombak,” kata Lukman kepada Darilaut.id, di rumahnya di Desa Timbuolo Timur, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada Senin (19/5).
Hujan deras masih mengguyur. Ombak tinggi lebih dari 5 meter gulung menggulung, dengan arus kuat di Laut Maluku, membawa bagian rumpon yang sudah lepas dari pemberatnya itu terombang-ambing.
Alat komunikasi yang disiapkan, tidak berfungsi dengan baik. Begitu pula jaringan telepon seluler.

Lukman hanya bisa pasrah. Rumpon yang berada di laut Maluku terbawa arus hingga di Samudra Pasifik.
Bekal yang masih ada, berupa beras dan sedikit ikan, serta rempah-rempah. Ikan untuk lauk diperoleh Lukman dengan memancing atau menangkap dengan peralatan lainnya.
Berhari-hari sudah dilewati. Lukman tidak lagi memasak nasi karena bekal beras menipis. Dibuatlah bubur yang banyak airnya. Air ditampung dari hujan tiap kali mengguyur.



