Tak terasa Lukman sudah 2 bulan masih berada di atas rumpon. Perbekalan beras habis. Setelah itu, selama 6 bulan, Lukman hanya makan ikan.
Lampu yang menggunakan tenaga surya sudah tak bisa difungsikan. Lukman berhemat untuk penggunaan penerang, senter, di malam hari.
Malam itu, pada pertengahan bulan Maret 2025, Lukman sedang duduk.
”Saya sudah enam bulan hanya makan ikan,” ujarnya.
Ada kapal mendekat, dan Lukman berteriak, minta pertolongan.
Senter yang masih ada sedikit baterei tersisa “saya nyalakan.” Waktu itu, sekira pukul 18.30, “saya lihat kapal ini terus mendekat,” ujarnya.
”Ini kapal yang akan menolong saya,” kata Lukman, dalam hati.
Lukman menyalakan senter, mereka juga dari atas kapal menyalakan senter.
Di kapal perikanan yang berasal dari Jawa, Jakarta, ada 30-an awak. Mereka awalnya kurang percaya ada orang dalam rumpon ini, apalagi sudah malam.
Lukman sangat senang melhat kapal berukuran panjang sekira 40 meter itu terus mendekat.
”Tolong,” teriak Lukman dengan suara sudah agak parau.
“Tunggu,” ucap salah satu awak dari atas kapal.
Mereka kemudian menurunkan perahu kecil dan berteriak jangan langsung naik. Rumpon atau rakit yang selama 9 bulan menemani Lukman di lautan, diikat lebih dulu di badan kapal.
Setelah tiba di atas kapal Lukman dipeluk, ”Saya dorang polo.”



