Gubuk seperti ini banyak kami temui di pinggir jalan utama di Desa Dodaga. Mereka turun di pagi hari dan kembali lagi ke huniannya di sore hari. Seringkali anak-anak balita ikut menunggu uluran tangan di gubuk.
Tidak semua proses asimilasi gagal. Ada cerita sukses dari perempuan Tugutil bernama Loriana Tiak yang keluar dari hutan untuk menempuh pendidikan tinggi.
Loriana ini dipilih oleh Orang Tugutil dan bermukim di Desa Lili, Halmahera Timur. Keluarganya bekerja sama untuk membiayai kerabat Loriana hingga meraih gelar sarjana Pendidikan Kimia dari Universitas Manado. Seusai lulus, Loriana yang menjadi sarjana pertama dari Desa Lili memilih kembali ke kampung halaman.
Saat kami temui, Loriana menyatakan cita-citanya membangun desa dengan menjadi Sekretaris Desa perempuan pertama di sana. Di sela-sela pekerjaannya, Loriana juga menyediakan waktu untuk mengajar anak-anak di desa serta aktif memberikan pelayanan kepada warga desa maupun Orang Tugutil di hutan. Ada juga Orang Tugutil di Desa Dodaga yang berkuliah jurusan sastra Inggris, kembali ke desa untuk menjadi guru.
Pentingnya memangkas stigma
Orang Tugutil di Halmahera Timur memainkan peran penting sebagai penjaga terakhir hutan tropis di Indonesia, terletak pada rentang garis Wallacea. Sayangnya, dalam menghadapi tekanan perubahan gaya hidup dan ekstraksi sumber daya, Orang Tugutil menghadapi stigma. Masyarakat acap memposisikan mereka sebagai “liyan,” entitas yang di luar pemahaman umum masa kini.




