Annisa dan tim menggunakan model SAR-X yang mempertimbangkan pengaruh wilayah sekitar serta variabel iklim lain, seperti curah hujan, suhu udara, kelembapan, radiasi matahari, kecepatan angin, dan tekanan permukaan.
Selain itu, data yang digunakan berasal dari NASA POWER yang memiliki data besar dengan cakupan wilayah Pulau Jawa dan dianalisis menggunakan data harian periode 1 Januari 1984 hingga 6 Juli 2023.
Untuk mengelola data iklim berskala besar tersebut, peneliti menerapkan metode knowledge discovery in databases (KKD).
“Melalui metode KKD, kami melakukan pembersihan data, pengolahan, dan penyajian hasil sehingga data iklim yang besar dapat diolah secara sistematis dan siap digunakan dalam pemodelan,” kata Annisa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model prediksi curah hujan yang dikembangkan memiliki tingkat akurasi tinggi dengan nilai mean absolute percentage error (MAPE) sebesar 3,33 persen.
“Nilai MAPE sebesar 3,33 persen menunjukkan bahwa model yang dikembangkan memiliki akurasi yang sangat akurat karena kurang dari sepuluh persen,” ujarnya.
Selain menghasilkan model prediksi, penelitian ini juga dikembangkan dalam bentuk web aplikasi sederhana berbasis RShiny yang digunakan untuk menampilkan hasil pemodelan dan visualisasi curah hujan secara spasial antarwilayah.



