Selasa, Oktober 27, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Kondisi Lamun Indonesia Beragam, Ini Metode Perhitungan Faktor Emisi Akibat Degradasi

redaksi
22 Januari 2026
Kategori : Berita
0
Mengurai Karbon Biru di Ekosistem Mangrove dan Lamun

Padan lamun sebagai tempat berkembang ikan-ikan karang berperan penting dalam mengurangi laju perubahan iklim. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), A’an Johan Wahyudi, mengatakan dalam konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun dan berpotensi mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir.

Riset terbaru BRIN mengungkap bahwa faktor emisi karbon dari ekosistem lamun (seagrass) di Indonesia tidak seragam.

Dalam riset ini, A’an mengenalkan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun. Faktor emisi adalah angka yang menggambarkan seberapa besar karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi atau gangguan.

Selama ini, Indonesia masih menggunakan faktor emisi global (Tier-1 IPCC) untuk menghitung emisi karbon dari lamun.

“Padahal, kondisi lamun Indonesia, baik dari sisi tekanan aktivitas manusia, dinamika pesisir, maupun stok karbon, sangat beragam dan tidak bisa diwakili oleh angka rata-rata global,” ujar A’an.

Wilayah pesisir di Jawa dan sebagian Sumatra memiliki tekanan antropogenik yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan timur Indonesia yang relatif lebih alami.

Untuk mengatasi keterbatasan data seri jangka panjang, A’an menggunakan pendekatan chronosequence modeling.

Halaman 1 dari 4
12...4Selanjutnya
Tags: A’an Johan WahyudiBRINEkosistem LamunEmisi KarbonPadang LamunSeagrass
Bagikan1Tweet1KirimKirim
Previous Post

Guru Besar Fakultas Kelautan Prof. Femy Sahami Pimpin Senat Universitas Negeri Gorontalo

Next Post

Gempa Bumi M5,4 Guncang Teluk Tomini

Postingan Terkait

Keberadaan Teripang di Balik Mosaik Habitat Lamun Teluk Tomini

Keberadaan Teripang di Balik Mosaik Habitat Lamun Teluk Tomini

27 Oktober 2026
Titik Panas Terbanyak Masih Kalimantan, Asap Menyelimuti Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua

Titik Panas Terbanyak Masih Kalimantan, Asap Menyelimuti Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua

27 Oktober 2026

Pekan Literasi Media dan Informasi Global: Tepat Waktu, Terarah, Mudah Diakses dan Berbasis Sains

Kondisi Kering di Indonesia Dibarengi dengan Curah Hujan

Alumni ITK Unhas Darwis Ismail Terpilih Sebagai Ketua Umum ISKINDO 2026-2031

El Niño yang Kuat Tidak Harus Berujung Bencana Kemanusiaan

Sinyal Curah Hujan November 2026 – Januari 2027

Suhu Permukaan Seluruh Daratan Dunia November 2026 – Januari 2027

Next Post
Gempa Bumi M5,4 Guncang Teluk Tomini

Gempa Bumi M5,4 Guncang Teluk Tomini

TERBARU

Keberadaan Teripang di Balik Mosaik Habitat Lamun Teluk Tomini

Titik Panas Terbanyak Masih Kalimantan, Asap Menyelimuti Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua

Pekan Literasi Media dan Informasi Global: Tepat Waktu, Terarah, Mudah Diakses dan Berbasis Sains

Kondisi Kering di Indonesia Dibarengi dengan Curah Hujan

Alumni ITK Unhas Darwis Ismail Terpilih Sebagai Ketua Umum ISKINDO 2026-2031

El Niño yang Kuat Tidak Harus Berujung Bencana Kemanusiaan

AmsiNews

REKOMENDASI

Kampanye Global IMO: Standar Keselamatan Kapal, Penanganan Penipuan Maritim dan Pengurangan Emisi

Hiu Paus Jadi Penghibur Nelayan yang Terombang Ambing di Laut

Lulusan Dokter Pertama Menjadi Tonggak Penting Bagi Sejarah UNG

Lahan Basah Diambang Kehancuran

Minyak Hitam Cemari Pulau Bintan

Bitung Jadi Model Percontohan Perlindungan Awak Kapal Perikanan

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.