Darilaut – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), A’an Johan Wahyudi, mengatakan dalam konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun dan berpotensi mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir.
Riset terbaru BRIN mengungkap bahwa faktor emisi karbon dari ekosistem lamun (seagrass) di Indonesia tidak seragam.
Dalam riset ini, A’an mengenalkan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun. Faktor emisi adalah angka yang menggambarkan seberapa besar karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi atau gangguan.
Selama ini, Indonesia masih menggunakan faktor emisi global (Tier-1 IPCC) untuk menghitung emisi karbon dari lamun.
“Padahal, kondisi lamun Indonesia, baik dari sisi tekanan aktivitas manusia, dinamika pesisir, maupun stok karbon, sangat beragam dan tidak bisa diwakili oleh angka rata-rata global,” ujar A’an.
Wilayah pesisir di Jawa dan sebagian Sumatra memiliki tekanan antropogenik yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan timur Indonesia yang relatif lebih alami.
Untuk mengatasi keterbatasan data seri jangka panjang, A’an menggunakan pendekatan chronosequence modeling.




