Di sisi lain, menurut Devi, ketika Anak Krakatau cenderung sepi aktivitas dan diam dalam periode waktu yang cukup lama, maka masyarakat justru mempertanyakan dan mengkhawatirkan kondisi ini.
“Untuk masyarakat Sebesi, geliat Anak Krakatau adalah pertanda bahwa gunung itu hidup dan tidak membahayakan, selayaknya ‘batuk’ pada anak manusia,” ujar Devi mengutip siaran pers Lipi.go.id.
Saat ini, pandangan masyarakat perlahan tetapi pasti mulai berubah, dari memandang alam sekeliling mereka termasuk Anak Krakatau sebagai berkah, kini menjadi sumber ancaman bencana.
Devi mengatakan terlepas dari ketakutan yang mulai tumbuh, masyarakat Pulau Sebesi tetap enggan untuk untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. Tidak ada trauma yang terlalu berat pada masyarakat Sebesi dalam merespons bencana tsunami 2018.
Mengingat kondisi alamnya membuat Pulau Sebesi menjadi salah satu unggulan destinasi wisata bahari oleh pemerintah Lampung. Pantai yang memiliki pemandangan yang indah dan berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau yang terkenal aktif menjadi salah satu unggulan pulau Sebesi.
Sejarah mencatat, erupsi Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 atau 138 tahun silam telah memicu tsunami besar. Peristiwa tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018, merupakan bencana yang telah memberikan kenangan yang sama.





Komentar tentang post