Darilaut – Kondisi Pantai Utara (Pantura) Jawa bukan hanya mengalami erosi, akan tetapi abrasi, banjir, serta diperparah kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah.
“Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata,” ujar peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, dalam Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pantura Tangguh, Indonesia Lestari untuk Integrasi Sains, Inovasi, dan Ketahanan Pesisir” di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Kamis (30/4).
Berdasarkan pemodelan data altimetri (1993-2025), tren kenaikan muka air laut di Pantura mencapai rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun, mengakibatkan akumulasi kenaikan hingga 15,5 sentimeter dalam kurun waktu 32 tahun.
Selain abrasi dan kenaikan muka air laut (Sea Level Rise/SLR), pesisir Pantura juga menghadapi masalah penurunan muka tanah (Land Subsidence).
Data geospasial (2017-2023), laju amblesan tanah tertinggi tercatat di Demak sebesar 16 cm/tahun, disusul Jakarta (15 cm/tahun), Sidoarjo (14 cm/tahun), dan Pekalongan (11 cm/tahun).
Penurunan muka tanah juga teridentifikasi di Surabaya (8 cm/tahun), Brebes (7 cm/tahun), serta Serang, Cirebon, dan Indramayu (masing-masing 6 cm/tahun).




