Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut di antaranya Sidney Thurston, Ph.D, Dr. Andri Ramdhani, Prof Mike McPhadden, Dr. Amsari Setiawan, dan Dr. Chidong Zhang.
Menurut Dwikorita, pola cuaca La Nina adalah salah satu dari tiga fase El Nino Southern Oscillation (ENSO).
Ini mengacu pada suhu permukaan laut dan arah angin di Pasifik dan dapat beralih antara fase hangat yang disebut El Nino, fase yang lebih dingin dengan sebutan La Nina, dan fase netral.
Fenomena La Nina membawa dampak peningkatan curah hujan di banyak tempat di Indonesia, meski sebenarnya dampak La Nina tidak pernah sama karena dipengaruhi faktor lainnya.
“Yang perlu juga diwaspadai adalah penyakit yang biasa muncul di musim hujan, mulai dari diare, demam berdarah, Leptospirosis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dan lain sebagainya. Semua harus bersiap,” katanya.
Kerja Sama BMKG dan NOAA
Dwikorita mengatakan BMKG berkolaborasi dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) guna memperkuat sistem peringatan dini di Indonesia mengantisipasi dahsyatnya perubahan iklim.
Kolaborasi yang dilakukan berupa observasi dan analisis guna peningkatan akurasi informasi cuaca dan iklim di Indonesia.
Selain itu juga digelar workshop, seminar, simposium, dan berbagai pelatihan lain guna pengembangan sumber daya manusia (SDM) BMKG.





Komentar tentang post