Cara Selandia Baru Melindungi Paus Orca dan Mamalia Laut Lainnya

Paus orca. FOTO: NATHAN PETTIGREW/DOC

Darilaut – Di Indonesia, meskipun paus dan lumba-lumba telah dilindungi, namun masih terjadi perburuan mamalia laut tersebut. Seperti di pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Secara historis, menurut Departemen Konservasi (DOC), orca pernah menjadi sasaran para nelayan untuk konsumsi. Tetapi tidak ada perburuan signifikan yang terjadi saat ini.

Hingga saat ini, salah satu dampak potensial terbesar pada paus orca dan mamalia laut adalah gangguan yang disebabkan oleh lalu lintas kapal.

Kehadiran perahu diketahui mengganggu perilaku normal hewan-hewan ini, terutama saat istirahat. Begitu pula dengan kebisingan bawah air yang dapat mengganggu sinyal ekolokasi dan komunikasi paus orca.

Paus orca (Orcinus orca) berada di puncak jaring makanan. Untuk itu, mereka sangat rentan terhadap polusi melalui bioakumulasi atau akumulasi racun melalui rantai makanan.

DOC — lembaga pemerintah yang bertugas melestarikan warisan alam dan bersejarah Selandia Baru– telah mencatat semua informasi penampakan dan terdamparnya paus dan lumba-lumba. Data ini didokumentasikan dalam database terdamparnya paus dan lumba-lumba nasional.

Salah satu ancaman utama terhadap spesies ini adalah gangguan oleh kapal rekreasi. Baik melalui polusi suara dan hantaman kapal.

Di bawah Peraturan Perlindungan Mamalia Laut 1992, terdapat larangan untuk berenang dalam jarak 100 m dari paus. Berenang dalam jarak yang dekat adalah pelanggaran.

Larangan dan pelanggaran ini untuk semua spesies yang umumnya dikenal sebagai paus, termasuk paus balin, paus sperma, paus paruh, paus pembunuh, dan paus pilot. Hukuman untuk pelanggaran peraturan adalah denda NZ$ 10.000.

Selain berenang, mengganggu, melukai, atau membunuh mamalia laut juga merupakan pelanggaran.

Siapapun yang melecehkan, mengganggu, melukai, atau membunuh mamalia laut diancam dengan hukuman maksimal dua tahun penjara atau denda maksimal NZ$250.000.

Orca adalah predator dengan reputasi yang cukup baik. Tidak ada catatan tentang serangan fatal yang disengaja pada manusia.

Larangan

Bentuk larangan berinteraksi dengan paus pembunuh dan mamalia laut di Selandia Baru, seperti dikutip dari situs Doc.govt.nz sebagai berikut:

• Jangan berenang dalam jarak 100 m dari paus pembunuh/orca.

• Kapal Anda tidak boleh berada dalam jarak 50 m dari paus pembunuh.

• Tidak boleh lebih dari tiga kapal dalam jarak 300 m dari mamalia laut mana pun, kapal tambahan dapat mengawasi dari jarak 300 m.

• Kapal Anda harus mendekati orca dari belakang dan ke samping.

• Jangan melingkari mereka, menghalangi jalan mereka atau memotong.

• Operasikan kapal atau perahu Anda secara perlahan dan tenang saat berada dalam jarak 300 m dari paus pembunuh.

• Hindari suara tiba-tiba yang dapat mengejutkan mamalia laut.

Begitu pula dengan pesawat. Harus menjaga jarak aman setidaknya 150 m dari orca dan tidak boleh terbang langsung di atas kepala.

Menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Membuang sampah secara hati-hati ke wadah yang sesuai.

Sampah plastik bisa sangat berbahaya jika dibuang di dekat saluran air atau pantai.

Apabila ada penampakan paus orca dapat dilaporkan dengan menghubungi 0800 DOC HOT (0800 362 468), atau dengan mengisi formulir secara online.

Hal ini selalu menarik dan membantu meningkatkan pengetahuan tentang distribusi dan pergerakan cetacea di sekitar Selandia Baru.

Informasi yang berguna untuk dicatat meliputi: spesies/deskripsi, lokasi, jumlah individu, perkiraan ukuran, apa yang sedang lakukan, arah yang dituju.

Selain itu, peristiwa penampakan paus orca juga dapat dilaporkan melalui Orca Research Trust di 0800 SEE ORCA (0800 733 6722).

#Hari Orca Sedunia #World Orca Day, 14 Juli 2021

Exit mobile version