“Temuan di lapangan selanjutnya menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa, DPL, maupun pengelola program untuk melakukan penyesuaian dan penguatan kegiatan hingga seluruh rangkaian KKN selesai,” ujarnya.
Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, mengatakan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan bagian penting, untuk memastikan KKN Profesi Kesehatan tidak berhenti pada pemenuhan aspek administratif.
“UNG ingin memastikan program yang dilaksanakan mahasiswa benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
“Ini juga sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk melihat apa yang sudah berjalan dan apa yang masih perlu diperbaiki selama pelaksanaan KKN-PK.”
Menurut Ningrayati, penempatan mahasiswa di 28 desa memberikan ruang pembelajaran yang luas bagi mahasiswa, untuk mengimplementasikan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan dalam situasi nyata di masyarakat.
Interaksi langsung dengan warga juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga dipengaruhi kondisi sosial, lingkungan, perilaku, serta keterlibatan keluarga dan Masyarakat, kata Ningrayati.
Melalui pelaksanaan KKN-PK Tahun 2026, UNG berharap kehadiran mahasiswa dapat memberikan kontribusi positif di setiap desa penempatan. Berbagai program yang dijalankan diharapkan mampu mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat sekaligus menjadi pengalaman profesional bagi mahasiswa.




