“Mencegah pernikahan dini berarti juga mencegah generasi yang terlahir kurang sehat dan berisiko mengalami stunting,” kata Bunga, mahasiswa KKN UGM.
Dalam kesempatan itu, pihak SMK Salafiyah Safi’iyah menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa KKN Kolaboratif UNG dan UGM dalam upaya pencegahan stunting.
Sosialisasi ini diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin sadar akan pentingnya menunda pernikahan dini hingga usia yang cukup dewasa.
Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta menyampaikan kekhawatiran mereka terkait tekanan sosial dan budaya yang kerap mendorong pernikahan dini.
Menanggapi hal ini, para mahasiswa memberikan strategi dan solusi untuk mengatasi tekanan tersebut, serta mendorong para remaja untuk terus melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita.
Kegiatan ini diakhiri dengan pembagian sticky notes kepada siswa-siswi. Dalam sticky notes tersebut mereka menuliskan pendapat, harapan, hingga kritikan terkait edukasi pernikahan usia dini yang diberikan oleh mahasiswa KKN Kolaboratif UNG dan UGM.
Melalui edukasi semacam ini, diharapkan kesadaran generasi muda akan bahaya pernikahan usia dini semakin meningkat, harapan lainnya para generasi muda dapat mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia. (Novita J. Kiraman)




