Darilaut - Malnutrisi pada anak dan ibu masih menjadi faktor risiko utama di Provinsi Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Papua. Ini merupakan hasil studi terbaru yang mengungkap beban penyakit di 34 Provinsi di Indonesia. Sebuah studi peer-review dan sistematis yang menganalisis ratusan penyakit, cedera, dan faktor risiko di Indonesia dipublikasikan oleh The Lancet Global Health. Studi ini merupakan analisis beban penyakit secara sistematis dan komprehensif pertama dari 34 provinsi di Indonesia dengan perbedaan status kesehatan yang beragam. "Dari analisis ini, kita mendapatkan seperangkat data yang dapat dibandingkan dari 34 provinsi untuk membantu pengembangan kebijakan dan program guna memantau kemajuan,” ujar Wahyu Pudji Nugraheni, Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Selasa (11/10). Sebagai peneliti yang juga terlibat dalam studi ini, Nugraheni menjelaskan studi analisis ini merupakan hasil kerjasama publikasi Global Burden of Disease (GBD) antara International Health Metric and Evaluation (IHME), Bappenas, BRIN (peneliti eks Balitbang Kementerian Kesehatan), BPS, dan akademisi dari beberapa universitas. Para periset dari berbagai institusi tersebut telah bekerja sama dengan IHME sejak 2018 dalam mengumpulkan dan menganalisis data kematian dan morbiditas di seluruh Indonesia. Nugraheni yang juga Doktor lulusan Universitas Indonesia tersebut mengatakan analisis ini memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi kesehatan di Indonesia, sesaat sebelum pandemi Covid-19 melanda. Tak hanya itu, analisis ini juga menjelaskan mengenai kemanjuran kebijakan dan program kesehatan yang diterapkan di Indonesia yang mungkin tidak terdeteksi karena pandemi. Menurut Nugraheni hasil studi ini menunjukkan empat (4) poin utama yang berhasil diungkap. Pertama, dalam rentang tahun 1990-2019 terjadi penurunan probabilitas kematian sejak lahir hingga usia 20 dan 20 hingga 55 di semua provinsi, tetapi usia 55 hingga 90 tahun meningkat di enam provinsi. “Angka harapan hidup laki-laki dan perempuan meningkat di seluruh Indonesia. Untuk laki-laki, terdapat peningkatan dari usia 62,5 menjadi 69,4, dengan perubahan positif sebesar 6,9 tahun. Untuk perempuan selama periode yang sama, angka harapan hidup meningkat dari usia 65,7 menjadi 73,5, meningkat 7,8 tahun," katanya. Bali memiliki angka harapan hidup tertinggi pada 2019 yaitu 75,4 tahun, sedangkan Papua terendah dengan 65,2, selisih 10,2 tahun. Probabilitas kematian dari lahir hingga usia 20 dan dari 20 hingga 55 menurun di semua provinsi untuk kedua jenis kelamin, tetapi usia 55 hingga 90 tahun meningkat di Papua dan Maluku Utara. Kedua, hasil studi juga menunjukkan tingginya tekanan darah sistolik dan merokok/penggunaan tembakau termasuk di antara lima faktor risiko utama untuk semua provinsi. Ketiga, malnutrisi pada anak dan ibu merupakan faktor risiko utama di tiga provinsi dan faktor risiko utama kedua di lima provinsi. “Gizi buruk pada anak dan ibu merupakan faktor risiko utama untuk Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Papua. Sementara faktor risiko utama kedua di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, dan Maluku Utara,” ujarnya. Keempat, hasil studi juga menunjukkan indeks massa tubuh yang tinggi merupakan faktor risiko utama di tiga provinsi dan faktor risiko utama kedua di lima provinsi. “Indeks massa tubuh yang tinggi merupakan faktor risiko utama untuk Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Timur, dan faktor risiko utama kedua untuk Kepulauan Bangka-Belitung, Kalimantan Utara, Jakarta, Papua Barat, dan Papua,” kata Nugraheni. Menurut Nugraheni analisis Global Burden of Disease (GBD) nantinya dapat digunakan untuk menilai kinerja sistem kesehatan. Penilaian ini di masa mendatang akan memerlukan penguatan jejaring riset antara penelitian, sumber data, dan pemangku kebijakan. Selanjutnya, kata Nugraheni, literasi studi GBD perlu dibuat sampai dengan tingkat kabupaten dan kota. Sehingga perencanaan dan kebijakan yang lebih spesifik dapat diambil. Harapannya studi epidemiologi ini dapat meningkatkan derajat kesehatan dan mengurangi beban penyakit di masyarakat.
Komentar tentang post