Penelitian terbaru mereka menganalisis 493 kejadian banjir semacam itu, mulai dari catatan paling awal yang tersedia hingga tahun 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi kejadian ini meningkat sekitar lima kali lipat sejak tahun 1950, naik dari rata-rata sekitar tujuh kejadian per dekade menjadi 34 kejadian.
Banjir semacam itu biasanya terjadi ketika air lelehan terkumpul di danau-danau di sekitar gletser yang menyusut, sering kali tertahan oleh es yang tidak stabil atau tumpukan batu dan sedimen yang lepas. Ketika bendungan alami tersebut jebol, air dalam volume sangat besar dapat terlepas hampir seketika.
Bencana hari Rabu tampaknya melibatkan rangkaian peristiwa yang berbeda.
“Kali ini, tahapan perantara tersebut tidak terjadi,” ujar Dr. Chapagain kepada UN News.
Alih-alih danau glasial yang jebol, batu dan es runtuh dari lereng gunung dan memicu aliran deras di bawahnya. Para peneliti sedang menyelidiki apakah material runtuhan tersebut sempat membendung sungai untuk sementara waktu sebelum akhirnya jebol—sebuah skenario yang menurut Dr. Chapagain belum dapat dipastikan kebenarannya.
Bagi para ilmuwan, perbedaan ini penting. Di wilayah hilir, dampaknya bisa terlihat sangat mirip dan menakutkan: air, es, dan material runtuhan dalam volume besar meluap dengan peringatan minim menuju lembah sempit yang berpenghuni.




