Kapal besar ini menggunakan kemudi samping seperti yang terlihat pada relief di candi Borobudur.
Safri mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak pada nostalgia masa lalu. “Bukti autentik dari kemajuan maritim Indonesia ada, tapi yang penting adalah bagaimana menghidupkannya kembali,” katanya.
Menurut Safri, perlu ada pendidikan, baik formal melalui jalur kurikulum atau non formal seperti PKBM atau camp seperti Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ). Kita memerlukan komitmen politik karena ini bukan kerja 3-4 tahun selesai. Ini pekerjaan panjang dan memanfaatkan potensi besarnya untuk kesejahteraan diperlukan kerja bersama.
Budaya maritim sebagai salah satu Pilar Nawacita maupun Kebijakan Kelautan Indonesia tercantum dalam Peraturan Presiden nomor 16 tahun 2017 yang perlu diperjuangkan hingga pada implementasi. Hal ini sangat penting dalam mengembalikan Jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari.
Untuk itu, dalam penyelenggaraan Kongres Budaya Nasional pada bulan Desember mendatang, budaya maritim harus mendapat proporsi yang signifikan sehingga bicara mengenai Budaya Maritim tidak sekedar formalitas atau euphoria. Tetapi termanifestasi dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengatakan, dalam Kongres Budaya Nasional ide-ide yang berasal dari 277 kabupaten dan kota seluruh Indonesia akan ditampilkan dalam seni pertunjukan, seni visual, memanfaatkan teknologi digital. Kemudian, memanfaatkan live streaming, live comment, demi membangun partisipasi dan rasa saling memiliki.





Komentar tentang post