Darilaut – Peristiwa yang semakin ekstrem telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana yang berhubungan dengan cuaca, iklim, dan air. Kondisi ini memberikan implikasi berantai terhadap masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Pesan utama hasil penilaian terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) banyak negara tetap terjebak dalam siklus kerusakan berulang karena upaya pemulihan sering memprioritaskan pembangunan kembali yang cepat daripada ketahanan jangka panjang.
Laporan terbaru WMO dan UNDP menyoroti dan menganalisis penilaian kebutuhan pascabencana yang mengungkap peluang signifikan untuk beralih dari respons bencana reaktif menuju pembangunan berbasis risiko.
Laporan ini menyerukan pergeseran ke arah pendekatan pemulihan yang tidak hanya memulihkan apa yang hilang tetapi juga mengurangi risiko di masa depan.
Publikasi bersama tersebut dengan judul Mapping the Impact and Informing Economic Resilience: An Analysis of Post-Disaster Needs Assessment (PDNAs) atau Memetakan Dampak dan Menginformasikan Ketahanan Ekonomi: Analisis Penilaian Kebutuhan Pasca Bencana.
Laporan ini berupaya memenuhi permintaan yang meningkat dari pemerintah dan mitra pembangunan untuk bukti yang lebih ketat dan spesifik sektor untuk memandu investasi berbasis risiko, mempercepat pemulihan, dan memperkuat sistem ketahanan nasional.




