“Saya sangat menghargai profesionalisme dan semangat Anda dalam kepedulian terhadap tsunami. Pemikiran dan gagasan Anda akan sangat penting karena akan membantu kami mengidentifikasi inisiatif dan kegiatan yang dapat kita lakukan bersama melalui kerja sama yang kuat,” kata Daryono.
Acara ini akan berlangsung selama tiga hari mulai 10-12 November 2024. Para peserta side event meliputi LSM, praktisi, komunitas, dan peneliti yang telah mendaftarkan diri untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam bentuk stan pameran, ignite stage, dan sesi poster.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara di Samudera Hindia yang rentan terhadap bahaya tsunami. Oleh karena itu, keberadaan sistem peringatan dini tsunami menjadi suatu keharusan untuk menyelamatkan nyawa masyarakat.
“Indonesia terletak dekat dengan zona subduksi yang dapat menyebabkan tsunami di seluruh samudera, seperti yang kita pelajari pada tahun 2004 saat gempa Aceh-Andaman,” kata Nelly saat membuka side event tersebut, pada Minggu (10/11).
Berdasarkan fakta sejarah tersebut, merupakan tanggung jawab bersama untuk membangun kapasitas agar saling menginformasikan secara tepat waktu kepada negara-negara Sumudera Hindia lainnya tentang kemungkinan ancaman tsunami.




