Pelaku dialog peminangan oleh masyarakat biasa disebut Utoliya. Utoliya terbagi atas dua, sesuai dengan perannya masing-masing, yakni Utoliya Luntudulungo Layi’o dan Utoliya Luntudulungo Wolato.
Utoliya Luntudulungo Layi’o adalah pembicara atau utusan dari pihak calon mempelai pria. Sementara pembicara atau utusan dari pihak mempelai wanita disebut Luntudulungo Wolato.
Mereka yang ahli dalam dialog peminangan dihargai oleh masyarakat sebagai orang yang memiliki keahlian dalam bidang itu.
Menurut Prof. Dakia, mereka dianggap sebagai anggota masyarakat biasa, tetapi lebih daripada itu, mereka dipandang sebagai orang yang memiliki bakat dan keahlian dalam bidang tolobalango (peminangan), bahkan mereka dipandang sebagai pemangku adat atau tokoh adat.
Bahasa yang digunakan dalam dialog peminangan kadang-kadang bercampur dengan kata-kata yang sifatnya arkais. Artinya kata-kata yang jarang ditemukan dalam interaksi sehari-hari. Cara penyampaiannya penuh rima dan berirama yang sifatnya formulaik.
Mengutip Albert Lord (dalam Tuloli, 1990: 143) formula adalah kelompok kata, frasa, klausa, atau larik yang digunakan secara berulang dengan irama yang sama untuk menyampaikan ide pokok tertentu.
Formula-formula itulah yang menjadi penuntun pelaku dialog dalam membangun struktur kalimat yang lengkap untuk menyampaikan ide atau maksud hati kepada lawan dialog.




