Yustus mengatakan untuk mengidentifikasi keberadaan babirusa pihaknya telah memasang 50 kamera trap di tahun 2023 sampai 2024 pada lokasi yang sama.
“Bulan ini, kami juga kembali memasang puluhan kamera trap di lokasi-lokasi yang sebelumnya ada perjumpaan satwa.”
Babirusa termasuk dalam hewan nokturnal atau lebih aktif di malam hari. Babirusa sulawesi mendiami hutan hujan tropis dan dataran rendah. Berbeda dengan babi, babirusa gemar berendam untuk menjaga suhu tubuh dan juga menghindari gangguan serangga, dan lebih sering terlihat berkubang di air yang agak bersih.

Sebaran Virus ASF
Artikel yang diterbitkan dalam Jurnal Universitas Gadjah Mada tahun 2021 menjelaskan bahwa penularan virus ASF dapat terjadi melalui penggunaan swill feeding atau pakan sisa, produk hewan ilegal, lalu lintas ternak babi, kendaraan yang terkontaminasi ASF, dan juga pergerakan babi hutan.
Sejumlah penelitian menyebutkan pertama kali virus ASF diidentifikasi di negara Kenya pada tahun 1921. Kemudian menyebar dan menjadi endemik di wilayah sub Sahara Afrika yang diduga berasal dari babi hutan yang menyebar ke babi peliharaan.
Di Indonesia, ASF pertama kali diidentifikasi pada tahun 2019 di Sumatera Utara, meluas hingga ke wilayah pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.




