Hasil identifikasi, itu bangkai babirusa berjenis kelamin Jantan. Usia babirusa ini diperkirakan di atas lima tahun.
Ini dicirikan taring yang sudah Panjang, serta usia bangkai sekitar tiga hari. Pantauan awal diduga hewan endemik ini mati akibat serangan virus ASF. Ciri-rinya dengan ditemukannya bercak-bercak merah di bagian dada.
Kondisi di sekitar ditemukannya bangkai babirusa adalah hutan primer, yang terdapat pohon beringin, damar, nantu dan cempaka. Dijumpai pula jenis palem aren, woka, dan rotan.
Tempat ditemukannya bangkai babirusa ini punggung gunung dengan ketinggian 670 meter dari permukaan laut (mdpl).
Tim mengambil sampel bagian kaki depan. Bangkai babirusa dipotong di bagian atas lutut dan dikemas dalam plastik guna pengecekan laboratorium. Hal ini untuk memastikan penyebab kematiannya.
Bangkai babirusa selanjutnya dikubur dan disemprot spray cairan citrun.
Taksonomi Babirusa
Babirusa Sulawesi dengan nama ilmiah Babyrousa babyrussa celebensis hidup di daratan Pulau Sulawesi. Hewan endemik sulawesi ini termasuk dalam keluarga mamalia Suidae.
Meskipun namanya mengandung unsur rusa, secara genetik dan taksonomi, babirusa lebih dekat hubungannya dengan babi
Hanya ada tiga jenis babirusa di dunia. Masing-masing babirusa tualagngio atau Babyrousa babyrussa. Spesies ini didapati di Pulau Sulu dan Pulau Buru. Selanjutnya Babirusa Sulawesi atau Babyrousa celebensis, dan babirusa togean atau Babyrousa togeanensis yang ada di Kepulauan Togean.




