Pencemaran dan perubahan habitat di sekitar perairan mengakibatkan kerusakan ekosistem.
Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Barti Setiani Muntalif PhD, makrozoobentos merupakan organisme mikro-invertebrata (hewan invertebrata berukuran kecil) yang hidupnya melekat di dasar sungai, antara batuan dan dalam runtuhan bahan organik. Selain itu hidup di batang kayu, dan ekosistem dekat perairan sungai lainnya.
Dalam orasi ilmiah Forum Guru Besar ITB dengan judul “Pengembangan Bioindikator Sebagai Upaya Pengelolaan Kualitas Air Sungai”, akhir September 2019 di Aula Barat ITB, Barti mengatakan, proses dekomposisi ini berperan penting terutama dalam regenerasi unsur hara dan nutrien sehingga menunjang keberlangsungan ekosistem sungai.
Contoh makrozoobentos adalah Annelida (cacing cincin), Sulcospira sp. (siput air tawar) dan Rhyacophilia sp (sejenis kepik).
Organisme ini umumnya mempunyai kemampuan untuk menghancurkan material yang besar menjadi lebih kecil dan partikel tersebut akan menjadi substrat (medium) bakteri untuk berkembang biak.
Penggunaan makrozoobentos sebagai bioindikator ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu mampu merefleksikan kondisi lokal suatu ekosistem sungai. Kemudian, mempunyai siklus hidup yang relatif panjang (lebih dari 1 tahun), mudah di-sampling, tingkat sensitivitas yang beragam terhadap polutan, dan keberadaannya relatif melimpah.





Komentar tentang post