Kedua, rendahnya kualitas ikan dan hasil laut lainnya yang dijumpai di pasar-pasar lokal akibat penanganan ikan pasca tangkap yang masih serampangan dan tidak sesuai SNI, atau teknik produksi yang masih jauh dari sanitasi dan higienis. Termasuk sarana dan prasarana produksinya pun jauh dari standar keamanan pangan (food safety), seperti HACCP atau ISO 22000, seperti dapur produksi yang jorok, air baku yang kotor, bahkan menggunakan bahan berbahaya seperti formalin.
Untuk menjawab tantangan di atas, pertama, perlu diupayakan agar daya tahan produk lebilh lama sehingga dapat didistribusikan dan dikonsumsi oleh masyarakat yang lebih luas. Kedua, variasi pangan makin beragam dan menambah animo masyarakat untuk mengkonsumsi. Ketiga, gizi dan nutrisi pangan dapat lebih dicerna dan diserap oleh tubuh dalam bentuk molekul yang lebih ringan atau lebih sederhana.
Namun umumnya pelaku industri perikanan menghadapi permasalahan seperti kesulitan modal untuk memperbaiki kualitas produksi mereka yang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan, serta kurangnya pengetahuan dan wawasan mereka sendiri akan pentingnya sanitasi dan higienis.
Oleh karena itu, beberapa terobosan kebijakan industri perikanan harus diterapkan.
Pertama, mendorong inovasi teknologi pengolahan hasil perikanan di lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi dan sekolah-sekolah vokasi, dan industri swasta, yang kemudian didorong untuk dihilirisasi ke industri pengolahan ikan. Inovasi meliputi teknologi pengawetan, penyimpanan, pengolahan, pengalengan dan lain-lain.





Komentar tentang post