Oleh : Dr. Gybert E. Mamuaya (Ketua Local Project Implementation Unit – Marine Science Education Project (LPIU – MSEP) Unsrat 1988-1993) & Prof. Dr. Desy Maria Helena Mantiri (Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Kelautan Unsrat)
Indonesia bukan sekadar negara yang dikelilingi laut—Indonesia adalah laut itu sendiri. Lebih dari dua pertiga wilayahnya adalah perairan, dan lebih dari 17.000 pulaunya dihubungkan oleh lautan yang luas.
Laut bagi bangsa ini bukan hanya hamparan biru yang memisahkan pulau, tetapi juga nadi penghubung kehidupan, sejak masa lampau hingga masa kini.
Sejak zaman prasejarah, masyarakat Nusantara telah menjadikan laut sebagai ruang hidup, ruang jelajah, dan ruang budaya.
Dalam perspektif antropologi maritim, laut bukanlah batas, melainkan ruang kosmologis dan sosial yang menyatukan berbagai komunitas kepulauan. Di sinilah konsep seperti ‘Tagaroa’—dalam konteks migrasi Austronesia—mewakili kedalaman hubungan manusia dengan lautan sebagai sumber kehidupan, migrasi, dan spiritualitas.
Konsep Tagaroa dan Kebijakan Kelautan Indonesia
Dalam tradisi masyarakat kepulauan di Pasifik dan sekitarnya, termasuk yang berakar pada budaya Austronesia, terdapat mitos dan konsep spiritual yang sangat terkait dengan laut dan kekuatannya.




