Dirjen Pengelolaan Kelautan KKP, A. Koswara, menambahkan bahwa pemutakhiran peta ini memperkuat komitmen Indonesia dalam membangun ekonomi biru yang mengedepankan sains.
“Karang dan padang lamun bukan hanya aset ekologis, tetapi juga fondasi ekonomi dan sosial bagi jutaan masyarakat pesisir.”
Keberadaan kedua ekosistem tersebut tidak hanya penting sebagai habitat ikan, tetapi juga sebagai penopang produktivitas perikanan, peredam gelombang, hingga sumber pendapatan pariwisata bahari.
Data terbaru dalam Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025 mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 2,3 juta hektare terumbu karang yang tersebar di seluruh wilayah pesisir. Dari total tersebut, 838 ribu hektare merupakan karang keras, sementara 660 ribu hektare merupakan padang lamun. Menurut Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono dari UGM yang mewakili ISMP, wilayah timur Indonesia memiliki sebaran ekosistem karang dan lamun yang lebih luas dibanding wilayah barat. Hal ini kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut tropis dunia.
Peta yang diluncurkan pada 2025 ini merupakan pemutakhiran dari dokumen tahun 2013. Perubahan signifikan terjadi pada resolusi pemetaan, yang sebelumnya berskala 1:250.000 kini ditingkatkan menjadi 1:50.000, sehingga memberikan detail yang lebih akurat. Pemutakhiran tersebut didukung oleh data citra satelit berkualitas tinggi serta pengecekan lapangan yang intensif sejak 2022. Ratusan ribu data primer dikumpulkan melalui survei lapangan di seluruh provinsi pesisir untuk memastikan konsistensi klasifikasi habitat.




