Hanya tiga minggu setelah peristiwa itu, komunitas internasional berkumpul di Kobe, wilayah Hyogo, Jepang. Pemerintah berbagai negara mengadopsi “Kerangka Kerja Aksi Hyogo” (Hyogo Framework for Action) yang berlaku selama 10 tahun.
Ini merupakan kesepakatan global komprehensif pertama mengenai pengurangan risiko bencana.
Mereka juga membentuk Sistem Peringatan dan Mitigasi Tsunami Samudra Hindia, yang mencakup berbagai stasiun pemantau seismograf dan permukaan laut, serta menyebarkan peringatan ke pusat informasi tsunami nasional.
Urbanisasi yang pesat dan berkembangnya sektor pariwisata di wilayah-wilayah rawan tsunami membuat semakin banyak orang terpapar risiko.
Oleh karena itu, pengurangan risiko menjadi faktor kunci jika dunia ingin mencapai penurunan signifikan dalam jumlah korban jiwa akibat bencana—yang merupakan tujuan utama dari “Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015–2030” (Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030), sebuah kesepakatan internasional berdurasi 15 tahun yang diadopsi pada Maret 2015 untuk menggantikan Kerangka Kerja Hyogo.
Meskipun jarang terjadi, tsunami dapat meluluhlantakkan komunitas pesisir, sehingga kesadaran dan kesiapsiagaan menjadi sangat penting.
Mengenali tanda-tanda peringatan alam, mengetahui rute evakuasi, menyusun rencana dan latihan tanggap darurat, serta berpartisipasi dalam latihan evakuasi dapat menjadi penentu antara hidup dan mati. Setiap orang memiliki peran dalam melindungi diri sendiri, orang-orang terkasih, serta komunitas mereka.




