Ia menegaskan bahwa ide dasar SES adalah menghubungkan secara eksplisit sistem alam dengan sistem masyarakat, termasuk aspek ekonomi, pengetahuan lokal, serta lembaga dan aturan yang mengatur interaksi manusia dengan lingkungan.
Peneliti yang telah menghasilkan 72 karya tulis ilmiah ini menjelaskan bahwa dalam konsep SES terdapat empat komponen utama, yakni resource system, resource unit, resource actor, dan resource governance. Konektivitas antar komponen tersebut menjadi kunci penting dalam membantu para pemangku kepentingan mengelola sumber daya alam, termasuk ekosistem lamun, secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Nurul memaparkan lima langkah penting dalam penerapan pendekatan SES pada pengelolaan ekosistem lamun. Langkah pertama adalah menetapkan batasan sistem ekosistem lamun, baik dalam skala kecil maupun besar, sebagai dasar pengelolaan wilayah. Kedua, memetakan seluruh komponen SES yang terlibat. Ketiga, mengidentifikasi jasa ekosistem lamun untuk memahami interaksi antara sistem ekologi dan sosial serta melihat keseimbangan antara pasokan dan permintaan jasa ekosistem.
Langkah keempat adalah menelaah konektivitas atau pola pemanfaatan ekosistem lamun, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Tingginya konektivitas mencerminkan tingginya ketergantungan manusia terhadap ekosistem lamun, yang sekaligus berpotensi memberikan tekanan terhadap keberlanjutannya. Langkah terakhir adalah mengukur tingkat keberlanjutan SES ekosistem lamun sebagai dasar penentuan kebijakan pengelolaan ke depan.




