Inovasi ini sekaligus menjawab dua permasalahan, yaitu menumpuknya limbah industri perikanan dan kebutuhan material baterai yang ramah lingkungan.
Indonesia merupakan salah satu penghasil rajungan terbesar di dunia. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) 2022, produksi rajungan dunia mencapai 278.000 ton per tahun, dengan kontribusi Indonesia sebesar 109.000 ton.
Namun, dibalik angka tersebut, industri pengalengan rajungan menghasilkan limbah cangkang yang melimpah dan umumnya dibuang tanpa pemanfaatan lebih lanjut.
Nasir mengatakan separator berbahan dasar kitin memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan separator komersial. Porositasnya mencapai 86 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan separator komersial Celgard2400 yang hanya 53 persen.

Kemampuan menyerap elektrolit mencapai 388 persen, juga lebih tinggi dibandingkan separator komersial yang hanya 113 persen.
“Keunggulan separator alami ini adalah penyusutan kurang dari 2 persen dengan tetap mempertahankan kinerja baterai yang stabil,” ujarnya.
Dari uji konduktivitas ionik, separator ini mencapai 1,41 mS/cm, lebih tinggi dibandingkan separator komersial yang hanya 0,19 mS/cm. Dalam uji stabilitas termal, separator ini menunjukkan penyusutan hanya 1,4 persen pada suhu 90°C selama satu jam, jauh lebih rendah dibandingkan separator komersial.



