Seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di pantai untuk mencari kesejukan saat terjadi gelombang panas di daratan, perubahan kondisi laut juga dapat berdampak pada kesehatan manusia. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) telah memperingatkan adanya peningkatan risiko penyakit yang ditularkan melalui air, seperti vibriosis, selama periode suhu tinggi yang berkepanjangan (ECDC, 2026).
Selain itu, peningkatan populasi ubur-ubur dikaitkan dengan perubahan kondisi laut, termasuk meluasnya zona rendah oksigen yang memungkinkan ubur-ubur berkembang biak lebih baik dibandingkan beberapa spesies ikan. Hal ini dapat berdampak pada pariwisata pesisir, terutama ketika konsentrasi ubur-ubur yang tinggi menyebabkan penutupan pantai (Calbert, 2025).
Dalam skala yang lebih luas, suhu laut yang lebih hangat menyebabkan udara menjadi lebih panas dan kelembapan meningkat di wilayah pesisir.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap masyarakat pesisir akibat kenaikan suhu—terutama suhu minimum pada malam hari—serta peningkatan kelembapan yang memperparah tekanan panas (heat stress).
Meningkatnya penguapan dari laut yang hangat juga menyebabkan naiknya kadar kelembapan di atmosfer, yang nantinya dapat turun sebagai curah hujan intens pada musim tersebut.




