Menurut Nuril, upaya reklamasi melalui revegetasi saja tidak menjamin hilangnya kontaminan dalam tanah walaupun kondisi lingkungan tampak membaik. Salah satu alternatif solusinya ialah menggunakan teknik fitoremediasi, yaitu teknik pembersihan limbah atau area terkontaminasi limbah dengan menggunakan tanaman hidup yang disebut tanaman akumulator.
“Teknologi fitoremediasi lebih ekonomis dan tepat diterapkan di Indonesia mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berpotensi sebagai tanaman hiperakumulator,” ujar Nuril, seperti dikutip dari Lipi.go.id.
Riset akumulator merkuri menemukan beberapa tanaman, yaitu Commelina nudiflora dengan potensi akumulasi 114,05 mg per tahun dapat menurunkan 73 persen kadar Hg di sawah (45 ppm–17 ppm), Salvinia molesta dengan poteni akumulasi 111,71 mg per tahun menurunkan 84 persen Hg (52 ppm–8 ppm).
Kemudian, Paspalum conjugatum dengan potensi akumulasi 107,11 mg per tahun menurunkan 88 persen Hg (75 ppm–9 ppm) dan Monocharia vaginalis dengan potensi akumulasi 68,57 mg per tahun menurunkan 66 persen Hg (29 ppm–10 ppm).
Adapun 6 jenis tanaman berpotensi akumulator timbal ialah Saccharum spontaneum (47 ppm Pb), Acorus calamus (55 ppm Pb), Ipomoea fistulosa (60 ppm Pb), Ludwigia hyssopifolia (50 ppm Pb), Eichhornia crassipes (55 ppm Pb) dan Hymenachne amplexicaulis 57 ppm Pb).





Komentar tentang post