Mukhtar juga menekankan bahwa Living Lab bukan sekadar lokasi riset, melainkan sebuah ekosistem pembelajaran yang menggabungkan teori, praktik, dan inovasi. Mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan kondisi agrikultur nyata, sementara dosen dapat mengembangkan riset terapan yang memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan masyarakat, mulai dari manajemen tanaman, teknologi pertanian, hingga konservasi lingkungan.
Dengan dukungan dari rektorat, Faperta berencana mengembangkan lebih banyak program kolaboratif yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, dan mitra industri. Hal ini diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas riset fakultas, tetapi juga menjadikan UNG sebagai pusat inovasi pertanian di kawasan timur Indonesia.
Kunjungan rektor menjadi momentum penting bagi UNG untuk terus membangun budaya riset yang inklusif, aplikatif, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata. Living Lab pun diyakini akan menjadi model laboratorium pembelajaran yang menghubungkan kampus dengan masyarakat secara berkelanjutan.




