Dalam kajian tersebut, para peneliti menelaah berbagai studi internasional terkait penggunaan terapi gen berbasis adeno-associated virus (AAV) untuk memperbaiki fungsi gen SCN5A.
Hasilnya menunjukkan bahwa resveratrol dapat berperan sebagai pendukung terapi gen dengan cara menurunkan peradangan, mengurangi stres oksidatif, dan membantu stabilitas sel jantung.
Resveratrol juga diketahui mampu membantu menstabilkan irama jantung serta menciptakan lingkungan sel yang lebih optimal agar terapi gen bekerja lebih efektif. Pendekatan ini dinilai lebih menjanjikan karena berupaya mengatasi akar masalah penyakit, bukan hanya mencegah akibatnya.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum dapat langsung diterapkan secara klinis.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan, dosis yang tepat, serta efektivitas resveratrol sebagai bagian dari terapi gen pada manusia.
Kajian ini menjadi sinyal penting bagi dunia medis bahwa terapi penyakit jantung genetik ke depan tidak lagi hanya bersifat preventif, tetapi berpotensi bersifat kuratif dengan menyasar penyebab genetiknya.
Jika berhasil dikembangkan, pendekatan ini diharapkan mampu menekan angka kematian mendadak akibat sindrom brugada.




