Ketika itu Hananto dan tim memanfaatkan Kapal Riset Falkor dari Schmidt Ocean Institute yang dikombinasikan dengan data batimetri. Survei dilaksanakan atas kerjasama antara LIPI, Institut de Physique du Globe de Paris, Earth Observatory of Singapore dan Schmidt Ocean Institute.
Data seismik refleksi dilakukan pada lintasan yang memotong secara tegak lurus palung Samudera Hindia yang mengalami pergeseran maksimum akibat gempa 2010 tersebut.
Hasil pengamatan menggambarkan adanya beberapa pasangan sesar naik aktif akibat aktivitas subduksi megathrust. Pasangan sesar aktif ini membentuk barisan perbukitan sejajar palung.
Pergerakan vertikal dari struktur tersebut pada saat terjadinya gempa tahun 2010 secara efektif membangkitkan tsunami yang melanda Pulau Pagai dan sekitarnya.
Pemodelan tsunami secara numerik berdasarkan model ini memberikan kesesuaian yang baik dengan pengamatan ketinggian tsunami di Pulau Pagai.
Hananto mengatakan, riset secara sistematik untuk mengidentifikasi struktur palung sepanjang zona subduksi Sunda (Barat Sumatra, Selatan Jawa, Selatan Bali, Nusa Tenggara dan Lombok) sangat penting.
“Riset ini dilakukan untuk mengetahui potensi tsunami yang dapat dipicu oleh gempa dengan kekuatan tidak terlalu besar. Riset yang sistematis, komprehensif, dan inter-multi disiplin sangat berguna untuk menyusun mitigasi bencara gempa bumi dan tsunami pada daerah pesisir di sepanjang zona subduksi Sunda,” katanya.





Komentar tentang post