Menurut Loyan, sejak menerima program konversi BBM ke LPG tersebut, biaya pengeluaran untuk mengoperasikan perahu katinting lebih hemat sampai 75 persen.
“Pakai bensin biaya yang keluar Rp 100 ribu, dengan LPG hanya Rp 21 ribu,” kata Loyan kepada Darilaut.id, Kamis (5/8).
Sebagai gambaran, menurut Loyan, setiap kali melaut, membutuhkan lebih kurang 10 liter bensin premium. Di Olele harga eceran bensin Rp 10 ribu per liter.
Sementara menggunakan LPG, biaya pengisian setiap tabung LPG Rp 21 ribu. Untuk melaut, Loyan hanya mengoperasikan 1 tabung LPG dan membawa 1 tabung cadangan.
Loyan mengatakan biasanya untuk melaut ini hanya butuh 1 tabung LPG. Saat ke lokasi rumpon, tempat penangkapan ikan tuna, dan balik lagi ke Olele hanya membutuhkan 1 tabung saja.

Pernah dalam sehari dengan menggunakan perahu katinting 9 PK dan LPG, Loyan dapat menangkap tiga ekor tuna sirip kuning. Ikan tuna yang ditangkap memiliki berat 63 kg, 40 kg dan 29 kg.
Dengan hasil tangkapan tersebut, hanya dalam sehari Loyan mengantongi hasil Rp 5 juta dari penjualan ikan tuna sirip kuning.
Penggunaan LPG di Perahu Katinting
Penelusuran Darilaut.id, masih terdapat beberapa nelayan yang sudah menerima program konversi BBM, tidak menggunakan lagi bahan bakar gas.
Menurut Loyan, nelayan yang tidak menggunakan lagi LPG karena faktor kemahiran mengoperasikan perahu katinting dan ketersediaan bahan bakar gas itu sendiri.





Komentar tentang post