“Pengelolaan air dengan sistem berselang memungkinkan penggunaan air menjadi lebih efisien,” kata Prof. Komang, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Hasil penelitian menunjukkan penerapan AWD dengan interval sekitar delapan hari meningkatkan efisiensi penggunaan air dibandingkan pengairan terus-menerus. Sistem ini juga mengurangi kondisi anaerob di tanah sehingga dapat menekan emisi metana dari lahan sawah.
Komang menekankan bahwa inovasi teknologi tersebut tidak dapat berdiri sendiri, melainkan perlu didukung oleh kelembagaan dan perubahan pola pikir petani dalam mengelola lahan sawah.
Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah anggapan bahwa sawah harus selalu digenangi air untuk menghasilkan produksi padi yang optimal.
Penguatan kelembagaan pengelolaan air irigasi seperti Subak menjadi salah satu faktor penting dalam penerapan teknologi tersebut di lapangan. Subak dinilai telah lama membuktikan kemampuan dalam mengatur distribusi air secara adil melalui kesepakatan bersama masyarakat.
“Subak dinilai mampu mengatur distribusi air secara adil dan berbasis kesepakatan bersama masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Komang menilai pengelolaan air pertanian ke depan perlu didukung dengan pendekatan teknologi modern, termasuk pemanfaatan sensor kelembapan tanah dan sistem digital untuk meningkatkan presisi pengairan di tingkat lahan.




